Pengikut

Rabu, 04 April 2012

PEMETAAN


Pemetaan Land Use Land Cover (LULC) dari Citra Penginderaan Jauh Landsat7 ETM+ untuk Wilayah Mamberamo dan Raja Ampat
Provinsi Papua


PENDAHULUAN

Papua (sebelumnya dikenal dengan Irian Jaya) adalah propinsi Indonesia paling timur dan paling kurang berkembang, terdiri dari sebelah barat New Guinea, pulau tropis tertinggi dan terluas di dunia, dan sejumlah pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Papua memberikan sumbangan besar pada status Indonesia sebagai salah satu negara terkaya di dunia dari aspek biologi.  Karena tingginya nilai keragaman hayati dan rendahnya kepadatan populasi manusia, maka Conservation International (CI) pada 1997 menyatakan New Guinea sebagai "Major Tropical Wilderness Area" (TWA) atau kawasan Rimba Tropis Utama.  Dengan paling sedikit 75% tutupan hutannya masih alami, maka TWA merupakan gudang keragaman hayati yang penting, dan berperan dalam tata air.  TWA juga merupakan tempat bagi masyarakat asli memiliki kesempatan untuk memelihara pola hidup mereka.
Conservation International telah mulai bekerja di Provinsi Papua sejak tahun 1995 dan pada tahun 1997 mencoba melakukan kegiatan yang dikenal dengan Priority Setting Workshop (PSW).  Pada workshop tersebut diidentifikasi kawasan-kawasan terestrial yang sangat penting dar aspek nilai keragaman hayati, salah satu kawasan tersebut adalah Mamberamo.  Lalu kenapa CI Indonesia juga bekerja di Kepulauan Raja Ampat? salah satu alasannya adalah karena Raja Ampat termasuk kedalam kawasan yang dikenal dengan nama "Coral Triangle Area", yaitu kawasan perairan laut yang diidentifikasi memiliki keragaman hayati tinggi dari aspek ikan, moluska, jenis dan kondisi karang. 
Oleh karena itu Conservation International Indonesia (CI-Indonesia) Papua Program sepakat untuk  mendukung pelaksanaan proyek kerjasama dengan Forest Watch Indonesia Simpul Bogor dalam periode 17 Juni 2003 – 31 September 2003 dalam upaya penyediaan informasi terkini kondisi penutupan hutan dan lahan di Provinsi Papua, khusus Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamberamo dan Kepulauan Raja Ampat. 
Laporan ini menguraikan tentang kegiatan yang dilakukan oleh Sekretariat FWI Simpul Bogor tentang Pemetaan Land Use Land Cover (LULC) dari Citra Penginderaan Jauh Landsat 7 ETM untuk wilayah Mamberamo dan Raja Ampat”.
Proyek ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, yaitu: “Updating Papua’s Habitat Information By Using Remote Sensing Technology” yang merupakan kerjasama antara Forest Watch Indonesia (FWI), Badan Planologi Kehutanan (BAPLAN) Departemen Kehutanan dan Conservation International indonesia Papua Program, antara bulan November 2001 sampai dengan September 2002. Proyek tersebut menghasilkan data terbaru tentang kondisi tutupan hutan di Propinsi Papua.  Hasilnya menunjukkan bahwa tutupan hutan di propinsi Papua hanya sekitar 30,4 juta ha yang tersisa atau 73,03% dari keseluruhan luas propinsi Papua.
Kendala utama yang dihadapi ketika pemetaan yang terdahulu adalah tingginya persentase daerah yang tertutup awal terutama di wilayah-wilayah penting, antara lain: wilayah Membramo, Pegunungan Jayawijaya dan Kepulauan Raja Ampat.  Kendala yang disebabkan oleh penutupan awan tersebut mengakibatkan terhambatnya CI untuk menyiapkan sistem informasi tentang tataguna lahan dan proses perencanaan koridor.  Mengatasi kendala tersebut di atas, CI Indonesia Papua Program telah melakukan pembelian citra baru yang relatif kecil cloud cover-nya, hanya saja pembelian ini terbatas pada scene yang meliput ketiga wilayah di atas.  Oleh sebab iti maka CI dan FWI bersepakat untuk melanjutkan kegiatan pemetaan tutupan hutan terdahulu untuk menghasilkan peta tutupan  hutan di propinsi Papua.

Maksud dan Tujuan
Maksud dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk mengetahui informasi kondisi hutan terkini (up to date) pada daerah Memberamo dan Kepulauan Raja Ampat dengan cara interpretasi penutup lahan dari Citra Landsat 7 ETM+.
Tujuan utama kegiatan ini adalah melaksanakan penafsiran citra satelit dalam rangka identifikasi kawasan rehabilitasi dan reboisasi hutan untuk bahan dasar perencanaan pembangunan kehutanan.
Metodologi
Penentuan metode interpretasi landcover
A. Karakteristik Citra Landsat 7 ETM+

Karakteristik spasial

Karakteristik spasial ditandai dengan resolusi spasial yang digunakan sensor untuk mendeteksi obyek. Resolusi spasial adalah daya pilah sensor yang diperlukan untuk bisa membedakan obyek-obyek yang ada dipermukaan bumi. Istilah lain yang umum digunakan untuk resolusi spasial adalah medan pandang sesaat (Intantenous Field of View /IFOV).
Tabel 1. Tabel IFOV pada masing-masing saluran.
         

Karakteristik spektral

Karakteristik spektral terkait dengan panjang gelombang yang digunakan untuk mendeteksi obyek-obyek yang ada di permukaan bumi. Semakin sempit julat (range) panjang gelombang yang digunakan maka, semakin tinggi kemampuan sensor itu dalam membedakan obyek.


Tabel 2.Tabel nama gelombang dan range panjang gelombang pada masing-masing saluran
      

Karakteristik Temporal

Landsat 7 merupakan satelit dengan orbit yang selaras matahari (sun synchronous), dan melintas di ekuator pada waktu lokal pukul 10:00 pagi. Landsat TM memiliki kemampuan meliput scenes yang sama (revisit oppotunity) setiap 16 hari.

Interaksi gelombang elektromagnetik dengan obyek

Ketika energi matahari mengenai obyek  maka terdapat 5 kemungkinan interaksi yang terjadi yaitu:
Tabel 3. Tabel interaksi gelombang elektromagnetik dengan obyek
     
Sistem pada Landsat 7 dirancang untuk mengumpulkan energi pantulan yang dilakukan oleh saluran 1 – 5, 7,8 (7 saluran) dan energi pancaran yang dilakukan oleh saluran 6 (1 saluran). Sensor Landsat akan mengkonversi energi pantulan matahari yang diterimanya menjadi satuan radiansi. Radiansi adalah flux energi per satu satuan sudut ruang yang meninggalkan satu satuan area permukaan, pada arah tertentu. Radiansi ini terkait erat dengan kecerahan pada arah tertentu terhadap sensor. Radiansi adalah sesuatu yang diukur oleh sensor dan agak terkait dengan pantulan. Nilai radiansi kemudian dikuantifikasi menjadi nilai kecerahan (brighness value) citra yang tersimpan dalam format digital.

Karakteristik Produk

Produk keluaran satelit Landsat 7 dibagi menjadi 3 level produk yaitu:
Tabel 4. Tabel karakteristik level Landsat 7 ETM +
Citra Landsat yang digunakan memiliki level 1G dengan mengunakan proyeksi Universal Transverse Mercator, sehingga tidak melakukan koreksi geometri.
B. KLASIFIKASI MULTISPEKTRAL
Pemetaan penutup lahan diperoleh dari hasil klasifikasi multispektral citra digital. Klasifikasi multispektral merupakan suatu algoritma yang dirancang untuk menyajikan informasi tematik dengan cara mengelompokkan fenomena berdasarkan satu kriteria yaitu nilai spektral pada beberapa saluran sekaligus. Tiap obyek cenderung memberikan pola respon spektral yang spesifik. Semakin sempit dan banyak saluran yang digunakan, semakin teliti hasil klasifikasi multispektral tersebut.
Klasifikasi multispektral diawali dengan menentukan nilai pixel representatif tiap obyek secara sampling. Nilai pixel dari tiap sampel tersebut digunakan sebagai masukan dalam proses klasifikasi. Ektraksi informasi penutup lahan dikerjakan berdasarkan warna  pada citra komposit, analisis statistik dan analisis grafis. Analisis statistik digunakan dengan memperhatikan nilai rerata, standar deviasi, varians, dan kovarians, dari setiap kelas sampel yang diambil guna menentukan keterpisahan sampel. Analisis grafis digunakan untuk melihat sebaran piksel-piksel suatu kelas yang diasumsikan sebagai kelas yang homogen apabila piksel-piksel yang diambil sebagai sampel, bergerombol dalam satu gugus, dengan memperhatikan posisi gugus sampel dalam diagram pencar.
Dalam mengkelaskan nilai-nilai spektral citra menggunakan banyak feature tersebut, dikenal istilah klasifikasi teracu (supervised classification) dan klasifikasi tak teracu (unsupervised classification). Istilah 'klasifikasi teracu digunakan, karena metode ini mengelompokan nilai pixel berdasarkan informasi penutup lahan aktual di pemukan bumi, sedangkan istilah 'klasifikasi tak teracu' digunakan, karena proses pengkelasannya hanya mendasarkan pada infomasi gugus-gugus spektal yang tidak bertumpang susun, pada ambang jarak (threshold distance) tertentu, dan saluran-saluran yang digunakan.
Informasi yang diperoleh dari proses pengkelasan nilai-nilai spektral bukan merupakan tipe penggunaan lahan, melainkan berupa klas penutup lahan. Berdasarkan hal tersebut, penamaan sampel mengacu pada posisi sampel dalam feature,space, dan diarahkan pada penyusunan klas-klas spektral seperti pada diagram pencar.  Dengan mengacu diagram pencar tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat suatu trend atau kecenderungan obyek permukaan bumi meliputi vegetasi, air dan tanah bahkan dapat dibedakan kondisi kerapatan vegetasi secara horisontal (ground cover) dan vertikal (Leaf Area Index)
Gambar 1. Distribusi vegetasi, tanah, dan air pada diagram pencar saluran merah dan inframerah dekat.
Gambar 2.  Nomogam saluran inframerah dekat (TM4) dengan inframerah tengah (TMS) sebagai sebuah fungsi kombinasi variasi tutupan lahan (Verhoef dan Rosema,1991 dalam Danoedoro, 1994).
Jumlah pixel untuk daerah contoh minimal adalah n + 1 buah pixel, dimana n adalah jumlah feature yang digunakan. Umumnya diambil >l0n pixel untuk tiap daerah contoh.  Sekelompok nilai pixel untuk daerah contoh tertentu ini membentuk suatu vektor pengukuran Xc, (measurement vector),
dimana:
 
      Berdasarkan vektor pengukuran tersebut dihitung nilai‑nilai statistik yaitu rerata  (uc), standar deviasi (sc), varians (Vc) dan covarians (Covc). Dengan menggunakaninformasi statistik daerah contoh tersebut, maka disusun suatu metode pengkelasan. Adapun melode pengkelasan vang sering digunakan adalah: jarak minimum terhadap Rerata (minimum distance to mean algoritm), metode parallelepiped (box classification) pengkelas centroid (k‑mean nearestt neighbour) dan metode kemiripan maksimum (Maksimum likelihood method).
Dari beberapa metode klasifikasi mullispektral tersebut diatas, dalam kegiatan ini digunakan metode kemiripan maksimum. Hal ini disebabkan karena, data‑data statistik daerah contoh digunakan untuk menentukan bentuk distribusi keanggotaan (distribution of membership) tiap kelas, pada p‑dimensi feature space‑nya sehingga metode ini lebih teliti dibanding metode yang lain. Setelah dilakukan proses klasifikasi maka akan diperoleh kelas‑kelas penutup lahan.
          Asumsi yang digunakan metode kemiripan maksimum ini ialah bahwa obyek homogen selalu menampilkan histogram yang terdistribusi normal ( Bayesian ). Gugus‑gugus nilai kecerahan tiap daerah contoh dapat dipandang sebagai suatu elips yang tertutup. Oleh karena itu, dalam algoritma ini, piksel diklaskan sebagai obyek tertentu tidak berdasarkan jarak euklidiannya, melainkan oleh bentuk, ukuran dan orientasi sampel pada featurespace yang berupa elipsoida.
 
C. INTEGRASI PENGINDERAAN JAUH DENGAN GIS
Penggabungan klas dan perapian hasil klasifikasi dengan digitizion on screen. Adapun kombinasi band yang yang umum digunakan  pada saat penafsiran citra satelit secara manual/visual yaitu 4-5-3 dan 5-4-2  dimana berbagai kenampakkan vegetasi baik alami maupun yang ditanam dapat terlihat dengan jelas.
Untuk mempermudah pengenalan tipe-tipe penutup lahan pada suatu citra, dapat digunakan kunci penafsiran yang dikembangkan untuk penafsiran citra Landsat-TM warna tidak standar (band 2-3-4). Namun hal ini bisa pula diterapkan pada citra dengan kombinasi band lainnya dengan menerapkan elemen-elemen penafsiran lainnya selain warna.  Kunci eliminasi teresebut pada prinsipnya disusun agar interpretasi berlanjut langkah demi langkah dari yang umum ke yang khusus, dan kemudian menyisihkan semua kenampakan atau kondisi kecuali satu yang diidentifikasi. Kunci eliminasi sering tampil dalam bentuk kunci dua pilihan (dichotomous key) dimana penafsir dapat melakukan serangkaian pilihan antara dua alternatif dan menghilangkan secara langsung semuanya, kecuali satu jawaban yang mungkin (Lillesand & Kiefer, 1990).
Untuk penafsiran manual/visual (on screen digitation), perlu memperhatikan pola jaringan sungai, danau atau garis pantai didelineasi yang diikuti dengan pola jaringan jalan, hal ini akan membantu dalam penafsiran obyek-obyek atau vegetasi yang terliput pada citra yang ada. Selanjutnya dilakukan deteksi pada obyek-obyek dengan melakukan delineasi batas luar pada kelompok yang yang mempunyai warna yang sama dan memisahkannya dari yang lain. Langkah terakhir adalah mengidentifikasi dan analisis obyek atau tipe vegetasi dengan menggunakan informasi spasial seperti ukuran, bentuk, tekstur, pola, bayangan asosiasi dan situs (Lillesand  dan  Kiefer, 1979; Sutanto, 1985).
Integrasi data hasil klasifikasi penginderaan jauh dan GIS dilakukan dengan cara menggabungkan citra hasil klasifikasi awal dengan peta referensi. Langkah yang dilakukan adalah melakukan overlay data digital citra asli dan hasil klasifikasi teracu dengan peta-peta penunjang (misalnya: vegetasi, topograsi, konsesi, tanah dan persebaran lahan kritis) sebagai referensi.
  D. Kerangka Pemikiran Metode Interpretasi yang Digunakan
Untuk lebih mendayagunakan citra satelit sehingga bisa digunakan oleh banyak kalangan, maka citra satelit tersebut harus diinterpretasi (ditafsirkan) menjadi informasi. Salah satu proses interpretasi yang paling sering dilakukan adalah interpretasi untuk pemetaan penutup lahan dan vegetasi. Dalam teori penginderaan jauh, terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk proses interpretasi citra satelit yaitu interpretasi otomatis atau yang juga disebut dengan klasifikasi multispektral dan interpretasi visual (manual).
Interpretasi otomatis hanya bisa dilakukan pada citra satelit format digital dengan bantuan sistem komputer. Interpretasi otomatis ini semata-mata hanya mengandalkan nilai kecerahan untuk membedakan obyek-obyek yang terekam pada citra. Garis besar proses interpretasi otomatis ini adalah, interpreter harus memilih sekelompok nilai kecerahan yang homogen sebagai daerah contoh (sampel area) dan dianggap mewakili obyek tertentu. Diambil beberapa sampel untuk mewakili setiap kelas tutupan lahan. Berdasarkan sampel-sampel ini komputer akan mencocokan nilai kecerahan sampel (dengan aturan matematis tertentu) dengan nilai-nilai kecerahan pada keseluruhan citra dan menggolongkannya ke dalam kelas tutupan lahan tertentu.
Kelebihan dari teknik interpretasi otomatis ini adalah cepat, karena dilakukan dengan bantuan komputer. Namun dalam pelaksanaannya teknik ini akan optimal jika daerah kajian memiliki obyek-obyek yang relatif homogen dengan cakupan yang luas. Disamping itu karena teknik ini mengandalkan nilai kecerahan, maka gangguan atmosfir seperti hamburan dan awan juga harus sekecil mungkin. Sayangnya kondisi ini sulit ditemui di daerah tropis seperti Indonesia. Penutup lahan di Indonesia sebagian besar adalah heterogen dan gangguan atmosfir seperti hamburan dan awan juga cukup tinggi.
Disisi lain terdapat teknik interpretasi visual (manual) citra satelit yang merupakan adaptasi dari teknik interpretasi foto udara. Citra satelit yang dimaksudkan disini adalah citra satelit pada saluran tampak dan perluasannya. Adaptasi teknik ini bisa dilakukan karena baik citra satelit tesebut dan foto udara, sama-sama merupakan rekaman nilai pantulan dari obyek. Namun karena perbedaan karakteristik spasial dan
spektralnya, maka tidak keseluruhan kunci interpretasi dalam teknik interpretasi visual ini bisa digunakan. Kelebihan dari teknik interpretasi visual ini dibandingkan dengan interpretasi otomatis adalah dasar interpretasi tidak semata-mata kepada nilai kecerahan, tetapi konteks keruangan pada daerah yang dikaji juga ikut dipertimbangkan. Interpretasi manual ini peranan interpreter dalam mengontrol hasil klasifikasi menjadi sangat dominan, sehingga hasil klasifikasi yang diperoleh relatif lebih masuk akal.
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka interpretasi citra Landsat 7 ETM digital menggunakan gabungan metode penafsiran secara klasifikasi teracu (supervised classification) dan metode secara manual/visual atau delineasi secara on screen digitation. Penggabungan kedua metode ini menghasilkan klasifikasi yang lebih rinci dan cepat sebab klasifikasi teracu akan membantu mempermudah klasifikasi secara keseluruhan, terutama untuk memperoleh batas delineasi pada kelas-kelas dengan poligon yang besar seperti kelas hutan, laut, danau dan yang lainnya. Sedangkan metode secara manual/visual dapat lebih memperinci hasil kliasifikasi teracu, terutama untuk memisahkan, menggabungkan atau menambahkan kelas-kelas yang tidak bisa dilakukan secara klasifikasi teracu.
Tahapan Kegiatan
Kegiatan ini dibagi ke dalam 2 tahap : Interpretasi citra satelit dan produksi peta akhir
Tahap I : Interpretasi Citra Satelit
Aktivitas yang termasuk dalam tahap ini adalah :
a.  Persiapan
Tahap pertama dari kegiatan ini meliputi studi literatur-literatur referensi dalam menentukan klasifikasi hutan selain berdasarkan jenis vegetasi juga didasarkan pada kondisi geografis lahan (topografi).  Secara umum, manual panduan interpretasi masih menggunakan 22 kelas kriteria penutupan lahan yang disusun oleh Badan Planologi (BAPLAN), Departemen Kehutanan.  Sebagai tambahan, beberapa habitat non hutan alami penting di Papua (seperti padang rumput alpin dan puncak gunung salju) harus dibedakan dari lahan terbuka akibat aktivitas manusia.  Hutan lahan kering primer seharusnya dibagi ke dalam dua atau tiga kategori berdasarkan ketinggian (seperti contoh: 0 - 800 m, 800 - 2500 m, 2500 m ke atas)
Pada proyek sebelumnya telah tersedia hardware yang cukup tinggi kecepatannya dalam proses pengolahan data citra satelit, sebanyak 4 komputer dengan spesifikasi Pentium 4, 512 MB RAM, 40 GB HD.  Dua jenis software dengan basis data raster dan vektor akan dipakai pada setiap komputer, seperti ER Mapper 5.5 untuk proses citra satelit dan ArcView 3.2 untuk pengolahan data vektor.
Beberapa citra satelit landsat baru yang dibeli dimaksudkan untuk melengkapi data citra Papua yang sudah ada, diantaranya :
  • Path/Row 101/063  10 August 2000
  • Path/Row 102/062  13 May 2000
  • Path/Row 102/063  23 August 2002
  • Path/Row 103/062  18 November 2002
  • Path/Row 103/063  16 February 2001
b. Pelaksanaan Interpretasi Citra Landsat 7 ETM.
Tahapan dalam Pemetaan Landcover dari Citra Penginderaan Jauh Landsat 7 ETM untuk Wilayah Membramo dan Raja Ampat adalah sebagai berikut:
1.  Loading data digital citra satelit.
2. Pembuatan citra komposit dan Penajaman citra (image enhancement).  Komposit citra yang digunakan adalah 543 dan 453 dengan dilakukan  penajaman
3. Pemilihan sampling area untuk klasifikasi.  Klasifikasi awal citra secara digital ditakukan dengan melakukan pemilihan sample objek yang memiliki kenampakan serupa pada training area didasari karakteristik spektral dan informasi penunjang lain dilanjutkan dengan klasifikasi. Dalam proses ini dipilih kenampakan yang homogen  dan penutup lahan yang mempunyai luasan relatif luas yaitu: hutan lahan kering, mangrove , rawa, tubuh air dan awan.
4.  Klasifikasi Multispektral.  Metode klasifikasi multispektral yang digunakan adalah metode kemiripan maksimum. Setelah dilakukan proses klasifikasi maka akan diperoleh kelas‑kelas penutup lahan yang dominan ada pada daerah terliput. Untuk mendetailkan dilakukan vektorisasi dan kemudian klas didetailkan dengan interpretasi visual dengan cara digitasi on screen diatas beberapa citra komposit yang telah ditajamkan.
5.    Vektorisasi dari hasil klasifikasi multispektral
6.  Hasil vektorisasi dilakukan  digitasi on screen (on screen digitation) diatas citra komposit. Deliniasi lebih rinci ke klasifikasi land cover yang spesifik berdasarkan  tabel klasifikasi. Dalam proses ini dilakukan pula overlay  (tumpangsusun) dengan peta digital lainnya sebagai data referensi (HPH, HTI, Perkebunan, Transmigrasi) maupun secara visual dengan peta hard copy peta Reprrot.
7.   Interpretasi Penutup Lahan dengan metode on screen digitation untuk Raja Ampat dan Memberamo sudah selesai, sesuai dengan klasifikasi dari Badan Planologi Departemen Kehutanan.
8.  Pelaksanaan Reklasifikasi dilakukan untuk mengelaskan kembali penutup lahan hutan sesuai dengan kelas hutan yang telah ditetapkan mengacu pada T.C Whitmore.  Sesuai dengan klasifikasi oleh Whitmore, kalsifikasi hutan dibedakan menurut ketinggian dari permukaan air laut. Data ketinggian wilayah direpresentasikan dengan adanya peta kontur. Peta kontur yang digunakan dalam kegiatan ini berdasarkan peta kontur dari Peta Rupa Bumi Indonesia, JOG, dan peta elevasi dari SIGAir. Untuk daerah Raja Ampat telah selesai dilakukan reklasifikasi, sedangkan untuk memberamo sedang dalam proses reklasifikasi.
 

The Formations of Tropical Moist Forests
sumber : An Introduction to Tropical Rain Forests, Author : Timothy C. Whitmore

Tahap II : Produksi Hasil Akhir (Desain dan Layout)
Desain dan print-out peta penutupan hutan final secara lengkap merupakan salah satu output untuk merepresentasikan hasil akan dilaksanakan pada tahap kedua dari kegiatan ini.  Dua jenis peta yang akan dihasilkan : 1.  Peta penutupan hutan seluruh Provinsi Papua dalam skala besar, 2. Peta penutupan hutan dengan skala lebih detail (1 : 100.000) khusus untuk daerah Mamberamo dan Kep. Raja Ampat.  Seluruh data peta penutupan hutan dan basemap akan disimpan dalam user-friendly CD-ROM dalam format digital (ArcView shapefile).  Semua aktivitas yang dilaksanakan dalam proyek ini (seperti persiapan, proses interpretasi dan analisis hasil) akan didokumentasikan dalam laporan akhir (final report) yang diserahkan ke CI, dalam dua format yaitu print-out dan digital file dalam CD-ROM.
Dalam rangka memenuhi keinginan data hasil kegiatan dengan format user-friendly yang maksimal, CD-ROM akan dibuat sesuai dengan spesifikasi berikut :
  • Seluruh file data dan ArcView extension (**.avx) yang dipakai harus tersedia dalam CD
  • Seluruh file legenda (**.avl) harus mempunyai nama dasar sama dengan file data petanya
  • ArcView project files (**.apr) harus terletak di atas susunan direktori proyek.  Data, image, AV extensions dan file-file lainnya disimpan dalam sub-direktori lain.  Susunan path data mutlak harus dirubah (dimodifikasi).  Susunan direktori seperti di bawah ini :
  • Seluruh layout dalam project file harus mempunyai ukuran kertas spesifik pada Page Setup dialog box; setting ini jangan dibuat dalam default setting.            
Pada pembuatan desain dan layout peta, hal yang harus persiapkan terlebih dulu adalah indeks peta. Tahap pembuatan layout sebagai berikut:
-    Pembuatan indeks peta, Indeks peta dibuat mengacu pada indeks peta dari Bakosurtanal.
-    Pembuatan peta landcover sesuai dengan nomor sheet pada indeks peta yang telah dibuat.
-    Membuat layout dengan software arcview dan menyimpan sebagai file dengan ekstensi APR file.
-    Membuat file siap cetak dengan ekstensi PDF file.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Dari rangkaian kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan metode interpretasi citra dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dihasilkan berupa:
1. Peta Penutup Lahan Raja Ampat dan Mamberamo Propinsi Papua skala 1:50.000 (digital dan hardcopy). Peta penutup lahan Raja Ampat dan Mamberamo, pada laporan ini berupa:
a.  Shapefile (*.shp) dan file *.apr untuk Layout memakai Program Arcview.
b.  File siap cetak dalam format file *.pdf memakai program Adobe Acrobat Reader
c.  Untuk tampilan di laporan dibuat dalam bentuk hardcopy (cetak).
2. Statistik Luas Hutan Raja Ampat dan Mamberamo. Penghitungan luas hanya mencakup wilayah Mamberamo dan Raja Ampat dan bukan seluruh Papua.
3.   Laporan akhir ( Digital dan Hardcopy)








LUAS PENUTUP LAHAN WILAYAH MAMBERAMO:
LUAS PENUTUP LAHAN WILAYAH RAJA AMPAT:
 Pembahasan
            Pada kegiatan ini dihasilkan dua Peta Landcover yaitu Peta Landcover Wilayah Mamberamo dan Peta Landcover Wilayah Raja Ampat.
PETA LANDCOVER WILAYAH MAMBERAMO
           Luas Keseluruha Wilayah Mamberamo yang dipetakan yaitu 17,46 juta hektar. Penutup lahan di wilayah memberamo didominasi Hutan Lahan Kering Primer Dataran Rendah dengan luas mencapai sekitar  7,8 juta hektar atau 44,7 persen dari luas mamberamo. Hutan Rawa Primer mempunyai luas terbesar kedua setelah Hutan Lahan Kering Primer Dataran Rendah mencapai luas sekitar 2,5 juta hektar atau 14,96 persen dari luas keseluruhan Wilayah Mamberamo.Hutan Lahan Kering Primer Pegunungan Tinggi mencapai luas sekitar 2,4 juta hektar atau sekitar 13,77 persen dari luas keseluruhan Wilayah Mamberamo. Tutupan awan sudah termasuk minim karena hanya mencapai luas  546 ribu hektar atau sekitar 3,1 persen dari luas keseluruhan Wilayah Mamberamo.
          Pada kegiatan ini, untuk klasifikasi tanah terbuka dibedakan dengan tutupan salju, jadi tutupan salju menjadi kelas tersendiri. Hal ini karena kenampakan tutupan saju di Papua merupakan tutupan lahan yang unik.Sedangkan untuk kelas tanah terbuka (bare land) disini merupakan lahan terbuka yang terjadi akibat adanya intervensi aktivitas manusia didalamnya. Tanah terbuka mempunyai luas cukup signifikan mencapai 647,6 ribu hektar atau 3,7 persen  dari luas keseluruhan Wilayah Mamberamo. Aktivitas pertambakan di Mamberamo sangat minim hanya mencapai luas 384,50 hektar atau 0,002 persen  dari luas keseluruhan Wilayah Mamberamo.
PETA LANDCOVER WILAYAH RAJA AMPAT
            Luas keseluruhan Wilayah Raja Ampat yang dipetakan yaitu 2,2 juta hektar. Hutan Lahan Kering Primer Dataran Rendah mendominasi penutup lahan di Raja Ampat lebih dari separuh dari luas keseluruhan Wilayah Raja Ampat yaitu mencapai 1,17 juta hektar atau 53,5 persen. Hutan Lahan Kering Sekunder Dataran Rendah meliputi luas 378,23 ribu hektar atau 17.308 persen dari luas keseluruhan Wilayah Raja Ampat. Tutupa awan di wilayah Raja Ampat cukup signifikan mencapai luas 862,29 ribu hektar atau 3,9 persen dari luas keseluruhan Wilayah Raja Ampat. Wilayah Raja Ampat yang terdiri dari banyak sekali pulau-pulau kecil mungkin merupakan kendala susahnya mendapatkan citra dengan tutupan awan yang minim.
           Kelas penutup lahan salju tidak dijumpai di Raja Ampat, karena wilayah Raja Ampat mempunyai ketinggian yang tidak memungkinkan terjadinya salju, berbeda dengan Mamberamo yang mempunyai ketinggian hampir 4000 meter dari permukaan air laut sehingga memungkinkan terbentuknya salju abadi.













SUSUNAN TIM
Susunan tim (Project Management) dalam kegiatan ini terdiri dari :
Pengarah Program : Togu Manurung, Ph.D (Direktur Eksekutif FWI), Iwan Wijayanto (CI Indonesia
Koordinasi Program : Hendi Sumantri (CI Indonesia-Papua Program), Bambang Tetuka (FWI)
Pengarah Teknis : Anang Tri Nugroho (Remote Sensing Expert)
Pendukung Program : GIS dan Remote Sensing Specialist (Agung Christianto dan Yuli Nugroho)












DAFTAR PUSTAKA
1.   Anonimous,       , Landsat 7 Handbook, download dari www.brsi.msu.edu
2.   Aronoff, 1989, Geographic Information Systems: A Management Perpective, Ottawa: WDL Publication.
3.  Danoedoro, Projo, 1996, Pengolahan Citra Digital, Yogyakarta: Fakultas Geografi,  Universitas Gadjah Mada.
4.   Estes,J.E.,1992, Remote Sensing and GIS Integration; Research Needs, Status and Trends, ITC Journal, 1992-1, pp 2-9
5.   Jensen, J.R., 1986, Introductory to Digital Image Processing; A Remote Sensing Perpective, New Jersey: Prentice Hall Inc.
6.   King, Bruce, 1999, Remote Sensing Manual for Humid Forest/Land Cover Mapping in Indonesia, Jakarta: FIMP-EU/MoF
7.   Lillesand, T.M & Kiefer, R.W., 1990, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra (terjemahan), Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
8.   Setiabudi, Upik Rosalina W, 1996, Petunjuk Praktis Identifikasi dan Pemetaan Vegetasi dengan menggunakan Penafsiran Citra Landsat TM; Studi Kasus Sumatera, Bogor: makalah dalam seminar Tropical Forest Dynamic, SEAMEO-BIOTROP.
9.  Sutanto, 1986, Penginderaan Jauh, Jilid 1 dan 2, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
10. Short, N.M., 1982, Landsat Tutorial Work Book – Basic of Satelite Remote Sensing, Washington DC:NASA
11.  Singarimbun,M., 1988, Metode Penelitian Survei,Jakarta:LP3ES
12. Schowengerdt,R.A., 1983, Technique for Image Processing and Classification in Remote Sensing, New York: Acasdemic Press.
 KRITERIA (DESKRIPSI) KELAS TUTUPAN HUTAN /PENGGUNAAN LAHAN

Kelas
Simbol
Kode
Keterangan
Hutan lahan kering primer dataran rendah
HpDr
20011
Seluruh kenampakan hutan di dataran rendah (0 – 1200 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan massif.
Hutan lahan kering primer pegunungan rendah
HpPr
20012
Seluruh kenampakan hutan di pegunungan  rendah (1200 – 1500 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan massif.
Hutan lahan kering primer pegunungan tinggi
HpPt
20013
Seluruh kenampakan hutan di pegunungan  tinggi (1500 – 3000 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan massif.
Hutan lahan kering primer sub-alpine
HpSa
20014
Seluruh kenampakan hutan di zone sub-alpine (>3000 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan massif.
Hutan lahan kering sekunder dataran rendah
HsDr
20021
Seluruh kenampakan hutan di dataran rendah (0 – 1200 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukkan dalam lahan terbuka.
Hutan lahan kering sekunder pegunungan rendah
HsPr
20022
Seluruh kenampakan hutan di pegunungan rendah (1200 – 1500 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka.
Hutan lahan kering sekunder pegunungan tinggi
HsPt
20023
Seluruh kenampakan hutan di pegunungan tinggi (1500 – 3000 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka.


Hutan lahan kering sekunder sub-alpine
HsSa
20024
Seluruh kenampakan hutan di zone sub-alpine (>3000 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka.
Hutan rawa primer
Hrp
2005
Seluruh kenampakan hutan di daerah berawa-rawa,termasuk rawa gambut yang belum menampakan tanda penebangan.
Hutan rawa sekunder
Hrs
20051
Seluruh kenampakan hutan di daerah berawa yang telah menampakkan bekas penebangan. Bekas penebangan yang parah jika tidak memperlihatkan liputan air digolongkan tanah terbuka, sedangkan jika memperlihatkan liputan air digolongkan menjadi tubuh air (rawa).
Hutan mangrove primer
Hmp
2004
Hutan bakau, nipah dan nibung yang berada di sekitar pantai yang belum ditebang.
Hutan mangrove sekunder
Hms
20041
Hutan bakau, nipah dan nibung yang telah ditebang) yang ditampakan dengan pole alur di dalamnya. Khusus untuk areal bekas tebangan yang telah dijadikan tambak/sawah (tampak pola persegi pematang) dimasukan dalam kelas tambak/sawah (tampak pole persegi/pematang) dimasukan dalam kelas tambak /sawah.
Semak/belukar
B
2007
Kawasan bekas hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali, didominasi vegetasi rendah dan tidak menampakkan lagi bekas alur/ bercak penebangan.
Semak/belukar rawa
Br
20071
Semak / belukar dari bekas hutan di daerah rawa.
Savanna
S
3000
Kenampakan non hutan alami berupa padang rumput dengan sedikit pohon. (Kenampakan alami daerah Nusa Tenggara Timur dan pantai selatan Irian laya).
HTI
Ht
2006
Seluruh kawasan HTI baik yang sudah ditanami maupun yang belum (masih berupa kahan kosong). Identifikasi lokasi dapat diperoleh pada Peta Persebaran HTI.
Perkebunan
Pk
2010
Seluruh kawasan perkebunan, baik yang sudah ditanami maupun yang belum (masih berupa lahan kosong). Identifikasi dapat diperoleh pada Peta Persebaran Perkebunan (Perkebunan Besar). Lokasi perkebunan rakyat mungkin tidak termasuk dalam peta sehingga memerlukan informasi pendukung lain.
Pertanian lahan kering
Pt
20091           
Semua aktivitas pertanian di lahan kering seperti tegalan, kebun campuran dan ladang
Pertanian lahan kering bercampur dengan semak
Pc
20092
Semua ativitas pertanian di lahan kering, berselang-seling dengan semak, belukar dan hutan bekas tebangan.
Transrnigrasi
Tr
20095
Seluruh kawasan baik yang sudah diusahakan maupun yang belum, termasuk areal pertanian, perladangan dan permukiman yang berada didalamnya.
Sawah
Sw
20093
Semua aktifias pertanian di lahan basah yang dicirikan oleh pola pematang.
Tambak
Tm
20094
Aktivitas perikanan yang tampak sejajar  pantai.
Tanah terbuka
T
2014
Seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan batuan puncak gunung, kawah vulkan, gosong pasir, pasir pantai) tanah terbuka bekas kebakaran dan tanah terbuka yang ditumbuhi rumput/alang-alang. Kenamapakan tanah terbuka untuk pertambangan dimasukan ke kelas pertambangan, sedangkan lahan terbuka bekas land  clearing dimasukkan ke kelas pertanian, perkebunan atau HTI.
Pertambangan
Tb
20141
Tanah terbuka yang digunakan untuk kegiatan pertambangan terbuka, openpit (batubara, timah, tembaga dll.). Tambang tertutup seperti minyak, gas dll. Tidak dikelaskan tersendiri, kecuali mempunyai areal yang luas sehingga dapat dibedakan dengan jelas pada citra.
Salju
Sj
20142
Areal yang tertutup oleh salju abadi.
Permukiman
Pm
2012
Kawasan permukiman baik perkotaan, pedesaan, pelabuhan, bandara, industri dll. yang memperlihatkan pola alur yang rapat.
Tubuh air
A
5001
Semua kenampakan perairan, termasuk laut, sungai, danau, waduk, terumbu karang dan lamun (lumpur pantai). Khusus kenampakan tambak di tepi pantai dimasukkan ke pertanian lahan basah.

Rawa
Rw
50011
Kenampakan rawa yang sudah tidak berhutan.

Awan
Aw
2500
Semua kenampakan awan yang menutupi suatu kawasan. Jika terdapat awan tipis yang masih mempelihatkan kenampakan di bawahnya dan masih memungkinkan untuk ditafsir, penafsiran tetap dilakukan. Poligon terkecil yang di delineasi untuk awan adalah 2 x 2 cm2.
Sumber : - Baplan Dep Hut, 2001.
- T.C. Whitmore (An Introduction Tropical Rain Forest), 1990.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar